Dalam kehidupan, mahluk sempurna membutuhkan
sebuah pondasi keyakinan yang sangat kokoh. Dalam pondasi tersebut, tersemat
nilai-nilai baik yang sebaiknya di lakukan, karena apabila tidak dilakukan,
maka akan mendapat malapetaka. Seiring perkembangan sejarah, nilai-nilai luhur
dari sebuah keyakinan turut berkembang. Banyak nilai-nilai yang berkembang
dinamis atau berubah sesuai dengan sejarah dan zaman nya, ada pula nilai-nilai
yang statis atau tidak berubah. Nilai yang dari dulu terbentuk sampai pada
perkembangan sejarah masih tetap saja di yakini kebenarannya dengan kuat.
Nila-nilai tersebut, pada umumnya dibungkus dalam kata Agama. Agama memberikan
petunjuk kepada manusia sebagai mahluk yang sempurna, mana yang baik, dan mana
yang tidak baik. Dalam perkembangan nya, muncul beberapa agama yang diyakini
oleh manusia. Dalam setiap agama, terdapat nilai-nilai yang terkandung untuk
menuntun manusia yang meyakini nya menuju jalan yang lebih baik. Seiring
berjalan nya waktu, muncul nilai-nilai yang diteguhkan lagi, bahkan ditambahkan
dalam hukum agama. Namun, nilai-nilai tersebut bersifat dinamis, karena
tercipta berdasarkan keadaan serta zaman. Dalam menentukan nilai-nilai
tersebut, muncul perdebatan antara pihak yang setuju dengan kandungan yang ada
di dalamnya, dengan pihak yang menolak isi kandungan nilai tersebut. Hal ini
sering kali menimbulkan perpecahan yang mengancam keharmonisan dalam kehidupan
antar mahluk, terutama manusia. Untuk menghindari konflik tersebut, maka
diperlukan adanya dialog antar pihak yang menghendaki pengesahan nilai
tersebut. Dialog disini penting, karena untuk menuju tujuan bersama dan
mengutamakan kedamaian. Namun, apabila semua pihak dengan kukuh mempetahankan
dialognya tanpa memperhatikan toleransi, maka kedamaian kelak akan menjadi
mahal. Dialog bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pengertian tentang
ajaran dan kehidupan.